Sabtu, 21 April 2018 | 19:24
21

Bantu Orangtua dengan Sol Sepatu

LELAH dan bermandi keringat sudah pasti dialami para tukang sol sepatu di Kota Kupang. Panas terik, dan hujan angin tak mengurungkan niat mereka untuk mencari pelanggan. Mereka harus berjalan kaki mengelilingi hampir semua sudut Kota Kupang demi sesuap nasi untuk mempertahankan hidup.

 
Salah satu di antara mereka adalah Thony. Pemuda asal Kabupaten Belu itu sudah bertahun-tahun menjalani profesinya tersebut. Ia hidup sendirian di kos-kosan di bilangan Oebobo, Kota Kupang dan bertahan hidup dengan mengembangkan bakatnya menjahit sepatu.

 
Kepada VN, Selasa (28/4), ia mengaku, setiap hari berjalan kaki menyusuri jalanan dari Oebobo mengelilingi Kota Baru, Kupang, Oeba, hingga Oesapa dan hampir seluruh sudut Kota Kupang untuk mencari nafkah. Sejak menginjakkan kakinya di Kota Kupang, ia bertahan hidup dengan menjalani usaha sol sepatu.

 
“Setiap hari bervariasi pendapatannya, walaupun kami sudah berjalan keliling sampai ke semua tempat. Paling banyak setiap hari saya bisa dapat Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu,” ujar pemuda ini. Penghasilan itu disisihkan untuk membantu kedua orangtua dan membiayai ketiga adiknya untuk meraih cita-cita mereka menjadi guru.

 
Ditanya perasaan sebagai seorang pemuda berusia dua puluhan tahun yang menjalani profesinya sebagai tukang sol sepatu, Thony mengaku biasa saja. “Untuk apa malu. Yang saya kerjakan halal dan mengembangkan bakat saya. Saya tidak malu menjalaninnya,” ujar pria yang bermimpi suatu saat bisa memiliki pabrik jahit sepatu itu.

 
Selain bakat untuk menjahit sepatu, Thony juga mengaku latar belakang pendidikannya yang tidak tamat SD memaksa dia harus menjalani profesinya tersebut. “Saya tidak tamat SD tetapi saya mampu membiayai hidup dan ibu saya sudah cukup. Kalau ada rezeki, saya mau buka pabrik sol sepatu,” tegasnya penuh semangat. (rina laiskodat/C-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz