Kamis, 26 April 2018 | 23:34
FOTO HAL 16 200415_Marselina  Veronika Djata copy

Bangga Melayani ‘Orang Kecil’

OBOR dan bambu adalah temannya dalam perjalanan ke daerah-daerah yang membutuhkan bantuannya. Jalan berliku, terjal, dan berlubang, serta kedinginan dalam malam
sudah banyak dilaluinya dan dirasakannya. Tantangan itu tidak pernah menyurutkan niatknya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dia tidak pernah mengeluh. Itulah Marselina Veronika Djata.

 
Sejak tahun 1988, Marselina sudah mengabdi sebagai perawat di Puskesmas Pembantu (Pustu) Waulejo, Desa Wolodhesa, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka. Sudah 27 tahun lebih ia mengabdi di daerah pelosok itu. Baginya, mengabdi di desa terpencil tidak menjadi kendala. Sebab, sejak memutuskan masuk Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) Maumere angkatan pertama tahun 1984, Marselina sudah bertekad menjadi perawat.

 
Tujuannya hanya dua, bisa merawat orangtuanya dan melayani masyarakat kecil di pedalaman. Lulus dengan nilai memuaskan, Kepala Dinas Kesehatan Sikka Edy Lamanepa kala itu menawarkan Marselina untuk melanjutkan pendidikan sebagai ahli gizi di Mataram, NTB. Namun, tawaran itu ditolaknya secara halus dan memilih megabdi sebagai perawat.

 
Sejak lulus PNS pada 1988, hingga kini dia tidak pernah berpindah tempat tugas, masih tetap di Pustu Waulejo. “Waktu ditempatkan di Pustu Waulejo, anak pertama saya belum sampai satu tahun. Kala itu saya lahir melalui operasi caesar, sehingga seharusnya tidak boleh beraktivitas.

 

Tetapi karena tugas, saya tetap melayani bahkan sampai di pelosok-pelosok kampung. Kalau pasien yang saya tidak bisa tangani, terpaksa kita gotong sejauh 20 kilometer ke Puskesmas Lekebai,” tutur Marselina di kediamannya, Minggu (19/4). Pada awal pelayannya, banyak kendala ditemui, terutama karena masyarakat masih percaya dukun, sehingga bidan atau perawat cenderung diabaikan.

 
Namun, dia tidak mundur. Dengan pendekatan intens yang dilakukannya, sedikit demi sedikit pemahaman masyarakat diubahnya. Menjadi tenaga kesehatan di desa terpencil memang bukan profesi yang mudah bagi ibu tiga anak ini. Medan yang sulit, keterbatasan peralatan dan fasilitas adalah sejumlah kendala yang menjadi makanan sehari-hari.

 
“Kadang harus keluar uang sendiri untuk membeli peralatan dan obat-obatan. Saya sering dibangunkan tengah malam untuk menolong proses persalinan di berbagai pelosok yang cukup jauh dengan medan yang sangat parah, apalagi kalau hujan, kami jatuh bangun dalam perjalanan,” kata wanita kelahiran 30 November 1960 ini.

 
Selama 26 tahun menjadi perawat di Pustu Waulejo, ibu tiga anak ini melayani tanpa listrik. Jika ada masyarakat yang butuh pelayanan pada malam hari, terpaksa dilayani
dengan bantuan penerangan senter.

 
Marselina adalah gambaran Kartini sejati. Dia berkali-kali berjalan kaki dari kampung ke kampung ditemani sang suami Bernadus Wawo sambil memanggul atau menjinjing obat dan peralatan kesehatan sudah biasa dilakukannya. Bahkan, kadang harus membawa serta putri mereka dengan berjalan di bawah terik matahari, di bawah gerimis, melalui kubangan dan jalan berbatu yang curam dan terjadl sudah jadi hal biasa.

 
“Kalau saya bawa obat dan peralatan, berarti Pak (suami) gendong anak sambil pegang obor. Tak jarang kita tergelincir dan jatuh. Saya tidak pernah mengeluh, saya jalani profesi ini dengan rasa senang dan bangga apalagi kalau sudah bisa melayani mereka yang membutuhkan pertolongan,” katanya.

 
Persoalan jarak, waktu, dan kesulitan medan, bukan menjadi alasan untuk mengelak dari tanggung jawabnya sebagai perawat untuk melayani masyarakat di kampung yang jauh dari Desa Wolodhesa. Justru melayani mereka yang membutuhkan pertolongan di pedalaman itulah yang menjadi kebanggannya.

 
Tidak hanya dalam wilayah Kecamatan Mego, Marselina kadang juga melayani masyarakat di Kecamatan Tanawawo yang membutuhkan sentuhan tangannya. Semua tantangan dilewatinya karena juga dukungan keluarga, terutama sang suami. “Saya bangga pada suami saya, yang setia mendukung dan membantu saya, sekalipun ia harus melaksanakan tugasnya sebagai guru di SD Detuleda, Kecamatan Mego,” tuturnya.

 
Sebagai tenaga kesehatan di desa terpencil, Marselina tidak hanya menjalankan tugas sebagai perawat. Ia juga dipercayakan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas dan
kegiatan gereja dan desa. Tak heran bila dia sangat dikenal dan lekat dengan masyarakat.

 
Baginya, kondisi kesehatan, dan juga pendidikan, di kampung-kampung akibat minimnya perhatian pemerintah. “Mereka tidak diberdayakan. Selama ini mereka tidak banyak tersentuh pembangunan.

 

Di sini, kesehatan ibu hamil sangat memprihatinkan,” katanya. Karenanya, hanya satu harapannya, agar ke depan pemerintah lebih memperhatikan fasilitas dan keberadaan tanaga kesehatan di wilayah pedalaman Kabupaten Sikka, terutama masalah penerangan. “Saya selama 26 tahun kerja tanpa listrik, genset saja tidak ada, saya sudah berulangkali minta tapi belum juga dikasih,” katanya. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz