Jumat, 27 April 2018 | 08:58
21

Ambisi si Penjual Ijuk

IJUK memang tak senilai harganya dibandingkan emas permata. Namun di kehidupan Petrus Pungga, ijuk menjadi sumber hidup bagi ia dan keluarga. Ia mengaku, sudah bertahun-tahun menjadi penjual ijuk di Jalan El Tari, Kota Kupang.

 
Kadang bosan dan rasa capek menghantuinya karena teriknya matahari. Walau demikian, satu ambisi yang membuat bapak dua orang anak ini tetap bertahan adalah ia ingin anak-anknya tidak senasib dengannya walau hanya dengan menjual ijuk.

 
Ia menuturkan, hanya pekerjaan inilah yang bisa ia tekuni dengan terbatasnya pendidikan yang ia miliki. Ia tidak pernah merasa malu dengan pekerjaannya, meski ia harus pergi dan pulang ke Baun, Kabupaten Kupang untuk membeli ijuk.

 
Setiap hari bila ijuk yang ia ambil laris, maka ia bisa mendapatkan keuntungan Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu per hari. Meskipun sedikit, tetapi ia berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan menyekolahkan dua anaknya.

 
“Kadang tidak laku sama sekali, tetapi kalau laku bisa sampai Rp 200.000 dan saya bisa  untung sampai dengan Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu,” ujarnya kepada VN, Minggu (12/4).
Meski penghasilannya tidak seberapa tetapi harapan dan ambisinya besar. “Walau pekerjaan saya hanya mendatangkan sedikit uang, tetapi saya yakin selalu ada rahmat. Karena itu, ijuk yang saya jual juga saya kelola menjadi tali sambil menunggu ijuk yang saya jual dibeli,” ujarnya.

 
Ia bertekad anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik dari dirinya. “Saya kerja jual ijuk yang penting anak bisa sekolah. Mungkin bapaknya hanya penjual ijuk, tapi siapa tahu anak bisa nasib lebih baik. Paling tidak mereka bisa sampai ke bangku perguruan tinggi dan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak,” ujarnya. (rina laiskodat/C-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz