Jumat, 20 April 2018 | 17:06
22

541 Hektare Padi di TTS Gagal Panen

SEBANYAK 541 hektare tanaman padi di enam desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Selasa (28/4) dilaporkan gagal panen akibat kekeringan. Enam desa itu ialah Tuafanu, Kiufatu dan Tonineke di Kecamatan Kualin, Desa Polo, Bena, dan Oebelo di Kecamatan Amanuban Selatan.

 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thadeus minta Pemkab TTS segera melakukan intervensi terutama membagikan beras kepada petani. “Pemerintah segera melakukan penanganan terhadap musibah gagal panen ini,” ujarnya.

 
Informasi yang dihimpun dari petani setempat mengatakan sebuah embung yang biasa menampung air hujan untuk kebutuhan tanaman padi rusak sejak tahun lalu dan belum diperbaiki. Akibatnya, pasokan air ke persawahan terhenti mengakibatkan padi mati.

 
Selain itu selama Januari-Maret, curah hujan di wilayah tersebut di bawah normal. Kemarau di daerah itu sudah mulai dari pertengahan Maret lalu. “Setiap bulan, hujan turun tidak lebih dari lima hari,” ujar Sarlota Na’at, petani di Desa Oebelo.

 
Ia mengatakan, curah hujan yang minim membuat air yang ditampung di persawahan sedikit, apalagi embung dalam kondisi rusak yang membuat petani kesulitan mencari air untuk mengairi persawahan. Sarlota menyebutkan, tanaman padi yang mati rata-rata berusia antara tiga minggu sampai satu bulan. Saat ini air dari sumur tidak bisa dimanfaatkan hanya untuk kebutuhan minum.

 
Jika kondisi itu tidak diatasi, warga bakal menderita krisis pangan dan krisis air. Padahal, persawahan di enam desa itu merupakan salah satu lumbung beras di TTS. Petani mengaku tidak mampu berbuat banyak terkait musibah gagal panen tersebut. Ia berharap, Pemkab segera membantu mengatasi persoalan mereka. “Ada sebagian kecil areal persawahan masih ada air, tetapi dipastikan tidak mampu bertahan lama,” ujarnya.
Terancam Gagal Panen Sementara itu, petani dari Desa Pantar dan Desa Cempang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) teracam gagal panen akibat banjir dari Sungai Kondong, yang berdekatan dengan lokasi persawahan tersebut, beberapa hari lalu.

 
Fransiskus Suarif, salah satu petani yang ditemui dilokasi persawahan Korong mengaku, lokasi persawahan tersebut selalu terancam banjir pada musim hujan. ”Kondisi padi sudah tendes kerikil akibat arus. Padahal persawahan itu merupakan lumbung padi bagi masyarakat di Dua Desa,” ujarnya.

 
Dia menjelaskan pula bahwa banjir itu akibat galian C yang dilakukan CV Catar Wulang di sungai itu. Kepala Desa Pantar Hendrikus Ali Kali mengaku akan segera melaporkan bencana tersebut ke Pemkab Mabar. (mi/C-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz